Sunday, February 28, 2016

MASJID KUBUS UNIK DI BEKASI

        BEBERAPA waktu lalu, Kota Bekasi memang ramai dibicarakan oleh masyarakat dengan lelucon “Bekasi adalah planet lain”. Tapi jangan salah, kota ini ternyata memiliki bangunan masjid yang beda dari masjid-masjid pada umumnya. Ya, Masjid Raya Al-Azhar Summarecon Bekasi. Saya sendiri, yang tinggal di Bekasi, justru baru tahu adanya bangunan masjid ini. Padahal Masjid Raya Al-Azhar Summarecon diresmikan oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi pada 26 November 2013, lo. Dari Jakarta, akses menuju masjid ini sebe- narnya tidak sulit. Tapi, ya itu tadi, lalu lintas Jakarta-Bekasi yang macet parah membuat perjalanan akan terasa panjang dan melelah kan. Tapi percayalah, Anda tak akan kecewa berkunjung ke masjid ini.
       Dari jalan tol Jakarta-Cikampek, silakan keluar di pintu tol Bekasi Barat, langsung me- nuju kawasan Summarecon Bekasi. Setelah melewati Mal Summarecon, saya melihat papan  petunjuk jalan menuju Al-Azhar sekaligus lokasi Masjid Raya Al-Azhar. Masjid ini memang berdampingan dengan sekolah Islam Al-Azhar. Ketua Yayasan Syiar Bangsa, selaku pendiri masjid, Edi Darnadi, menyebut lokasi ini dipilih karena sekolah Al-Azhar memiliki kredibilitas tinggi dalam kegiatan belajar-mengajar. Saya sejenak terenyak di depan bangunan megah ini. Benar-benar tidak seperti masjid kebanyakan di Indonesia. Bentuknya lebih seperti kubus. Satu-satunya tanda bahwa
bangunan itu masjid adalah menara dengan kubah kecil di puncaknya.
        Pintu masuk utama masjid juga unik. Dibuat seperti layaknya terowongan. Tak jauh dari pintu masuk, ada “batas suci”. Setiap pengun- jung wajib melepas alas kaki. Setelah memasuki pintu, saya melihat tangga luas yang langsung menghubungkan dengan ruangan salat. Berhubung saat saya datang bertepatan dengan waktu asar, saya pun mencari-cari tempat wudu. Seorang resepsionis yang ramah membantu saya menemukan ruang wudu untuk perempuan. Saya kembali terpukau oleh tempat wudu masjid ini. Bersih dan luas. Dan karena ruangannya dipisah dengan toilet, tempat wudu ini tidak penuh sesak oleh pengunjung.
        Terasa nyaman bahkan untuk me- rapikan hijab sekalipun. Saya juga sempat melongok toilet yang lega. Bersih pula. Selesai berwudu, saya melihat je- maah pria melewati lorong jalanan yang langsung menembus ruang salat, tepatnya berada di samping toilet. Ternyata lorong itu dibuat su- paya memudahkan jemaah wanita dan pria menuju ruang salat. Dan ruang untuk salat antara wanita dan pria pun terpisah, jemaah wanita ditempatkan di lantai dua, sementara jemaah pria di lantai satu. Setelah selesai salat asar, saya pun melihat-lihat sekeliling masjid ini.
        Masjid ini sebenarnya tidak terlalu besar, ha- nya 1.320 meter persegi. Tapi, entah mengapa, masjid itu terasa lega dan saya nyaman ber- ada di masjid ini. Mungkin karena bangunan yang bisa menampung 1.200 orang ini tidak memiliki banyak pilar. Di lantai semi-basement , terdapat aula se- luas 260 meter persegi. Ada juga beberapa ruang serbaguna yang biasa digunakan untuk pameran-pameran bertema Islam ataupun acara pernikahan. Sisi masjid ini menampilkan bentuk kotak
menyerupai Ka’bah seperti bangunan-ba- ngunan di wilayah Timur Tengah. Terlihat ma- nis saat berpadu dengan tampilan bangunan yang minimalis-modern. “Pengaruh bentuk Ka’bah memang sengaja dihadirkan di masjid ini,” kata Rusman Yuyus, penanggung jawab kegiatan harian Masjid Raya Al-Azhar Summarecon Bekasi.
      
Pada sisi atap dan dinding, banyak terdapat ukiran. Sayup-sayup terdengar suara gemercik air dari kolam memanjang berhiaskan tanam- an hijau di depan ruang imam salat. Tepat di atas taman sengaja dibuat terbuka untuk sirkulasi udara. Konsep kolam air di depan tempat imam ini mirip dengan Masjid Al-Irsyad, Bandung. Namun perbedaannya, di Masjid Al-Irsyad terdapat globe (bola dunia) yang bertuliskan lafal Allah, tepat di tengah kolam. Ternyata Masjid Raya Al-Azhar Summare- con dirancang oleh arsitek yang sama dengan Masjid Al-Irsyad, Bandung, yaitu Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

No comments:

Post a Comment