MASIH lekat dalam ingatan Faizal Amin Haderi saat mendapatkan kabar bahagia empat tahun lalu. Pada 2011, dia mendapatkan beasiswa pro- gram double degree antara Indonesia dan Prancis. Wajahnya begitu semringah membayangkan dirinya akan menempuh pendidikan di luar negeri. Namun, di samping itu, Faizal menyimpan rasa khawatir. Kepergiannya kala itu berdekatan dengan bulan Ramadan. Itu artinya, untuk pertama kali dalam hidup, Faizal harus men- jalankan ibadah puasa di negeri orang. Bulan Ramadan datang pada awal September. Tak ada lagi acara hunting takjil maupun kegiatan tarawih bergiliran di masjid-masjid. Prancis sedang musim dingin. Sukacita Ramadan yang biasa dirasakan pun seakan hilang. Apalagi, karena termasuk “orang baru”, Faizal belum banyak mengenal komunitas muslim di pusat fashion dunia itu. Siang hari di Prancis kala itu lebih panjang daripada malam hari.
Pada suatu waktu, Faizal harus berpuasa kurang-lebih 20 jam dalam sehari. “Hawa yang dingin membuat haus menjadi berkurang. Di samping itu, saya sibuk kuliah, jadi keinginan makan dan mi- num jadi terpecah,” ujarnya. Meski begitu, Faizal merasa pada awal-awal Ramadan, puasa tanpa keluarga di negeri yang jauh agak menyulitkan. Apalagi fasilitas ibadah sangat terbatas. Di Kota Bethune, Prancis Utara, tempat tinggalnya, hanya ada satu tempat ibadah untuk umat Islam. Itu pun hanya basement apartemen yang menjadi “sekretariat” asosiasi masyarakat Maroko. “Dalam hati saya bertanya, haruskah kita melakukan salat takhiyatul masjid di sini? Sedangkan ini bukanlah sebuah masjid,” ujarnya. Bangunan itu memang sama sekali tak mirip masjid. Tidak ada kubah ataupun ornamen yang menunjukkan bangunan itu adalah rumah ibadah umat Islam. Namun apa daya, Faizal tetap menjalankan salat di ruangan berbentuk balok berukuran 12 x 3 meter itu. Terletak di lantai paling bawah dengan ratusan anggota jemaah. Impit-impitan tak dapat dihindari, belum lagi postur badan mualaf Prancis dan orang Arab yang lebih besar. Mereka bahkan harus menekuk tubuh lebih dalam mana kala bersu- jud. Pengalaman serupa disampaikan Sofi Hanim Latifah. Pada Agustus 2013, ia berangkat untuk belajar di Jurusan Sistem Informasi Geografi Universitas Wageningen, Belanda. Seperti Faizal, Sofi menjalani suka-duka berpuasa Ramadan di luar negeri. Di Belanda, pukul 03.00 sudah masuk subuh, sedangkan magrib baru pukul 22.00.
Jadi total lama berpuasanya 19 jam. Beda- nya dengan Faizal, Sofi harus menjalani puasa di musim panas. Kira-kira sama panasnya de - ng an Jakarta tapi udara terasa lebih kering. Teman-teman kuliahnya, yang mayoritas ti- dak menganut agama tertentu, menawarinya minum. Mereka begitu penasaran ketika Sofi menolak tawaran minuman. Dirinya menjelaskan, sebagai pemeluk Islam, dia sedang menjalankan kewajiban berpuasa Ramadan. “Teman-temanku kaget,” cerita Sofi. Teman-temannya khawatir Sofi akan meng- alami dehidrasi dan berhalusinasi. “Kata mereka, puasa pada musim panas seperti itu bahaya,” katanya. Untuk masalah ibadah, Sofi lebih beruntung. Di kampusnya tersedia ruang ibadah. Namun ruang ibadah yang bernama Silent Room itu diperuntukkan bagi mahasiswa dari beragam agama. Jadi, ketika Sofi menunaikan salat, ada juga teman-teman lain yang melakukan ibadah sesuai dengan agamanya. Ada yang meditasi, ada juga yang membaca kitab suci. Pengalaman berpuasa di negara lain juga dirasakan Sofi ketika melakukan perjalanan ke Eropa Timur di bulan Ramadan. Sofi juga kesulitan mendapatkan tempat beribadah. “Ya, kalau bisa dijamak di hostel, ya dijamak. Kalau tidak, ya salat saja di tempat-tempat kosong, seperti bangku taman, cuek saja,” katanya.
Karena suasana yang “kurang semarak” itu, kaum muslim yang tinggal di negara dengan mayoritas nonmuslim biasanya akan lebih merasa kangen kampung halaman. Hal itu tak hanya dirasakan oleh orang Indonesia. Seorang pendatang asal Kashmir, Shala Haroun, yang kini tinggal di Amerika Serikat, merasakan hal sama. Di negaranya, orang-orang akan mendapat keringanan pekerjaan selama berpuasa. Tapi di Amerika hal itu tidak akan terjadi. Namun Shala beruntung, dia bisa berkumpul dengan warga muslim Amerika. “Saya bisa salat tarawih dan buka puasa bersama kaum muslim dari berbagai etnis,” ujar Shala seperti dilansir Voice of America. Walau muslim di Amerika datang dari ba- nyak negara, tradisi Ramadan mereka umum- nya sama. Keluarga muslim berbelanja di toko daging halal menjelang sore, mempersiapkan buka puasa, lalu salat tarawih. “Meski jauh dari kampung halaman, Rama - dan tetap indah,” ujar Shala.
Merkur 15c Safety Razor - Barber Pole - Deccasino
ReplyDeleteMerkur 15C Safety Razor novcasino - Merkur https://febcasino.com/review/merit-casino/ - 15C for aprcasino Barber Pole https://deccasino.com/review/merit-casino/ is the perfect introduction casino-roll.com to the Merkur Safety Razor.